Ma’arif Institute: Ekstrakulikuler Jadi Pintu Masuk Radikalisme di Sekolah

0
556

JAKARTA – Direktur Ma’arif Institute Muh Abdullah Darraz mengungkapkan, ekstrakulikuler dan bimbingan belajar (bimbel) jadi salah satu pintu masuk radikalisme di sekolah.

Kata Darraz, beberapa kasus kegiatan ekstrakulikuler di sekolah bisa jadi pintu masuk radikalisme karena ada peran alumni yang memiliki paham radikal. Misalnya saja para alumni yang merupakan anggota dari kelompok radikal dan menularkannya pada para peserta didik.

“Ada pula peran dari lembaga-lembaga konseling dan lembaga kursus yang melakukan pendampingan belajar dengan sasar siswa. Misalnya ada kursus tambahan pelajaran Fisika dan Matematika dan digratiskan. Kalau seperti itu bagaimana siswa bisa menolak?,” kata Darraz saat Seminar Diseminasi Hasil Penelitian “Penguatan Kebijakan Ekstrakulikuler dalam Meredam Radikalisme di Sekolah”, di Jakarta, Jumat (26/1/2018).

Kata Darraz, saat bimbel pelajaran tersebut biasanya ada disisipkan ideologi-ideologi tertentu seperti radikalisme. Tetapi menurut Darraz, hal itu tidak bisa disalahkam pada pihak sekolah karena biasanya dilakukan di luar sekolah.

“Ada juga kelompok-kelompok yang lakukan mentoring, seperti pertemuan mingguan atau bulanan dan sekolah tidak tahu ada gerakan seperti itu. Awalnya kelompok itu kenalkan lembaga konseling ke sekolah dengan baik, tapi lama kelamaan akhirnya tidak termonitor,” kata Darraz.

Kata Darraz, kelompok radikal ini biasanya manfaatkan jam-jam pulang sekolah. Maka dari itu menurut Darraz, sekolah perlu perhatikan pola tersebut pasalnya selama ini sekolah sulit memonitor berbagai pola radikalisme yang masuk ke sekolah.

Untuk diketahui, penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Syarif Hidayatullah Jakarta (PPIM-UIN Jakarta) dan UNDP Indonesia. Secara keseluruhan rangkaian penelitian ini berlangsung dari Oktober hingga Desember 2017.

Riset melibatkan 40 sekolah dengan kurang lebih 450 orang naraumber, mengambil sampel di enam daerah dari lima provinsi di Indonesia yakni meliputi Kota Padang (Sumatera Barat), Kabupaten Cirebon (Jawa Barat), Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat), Kota Surakarta (Jawa Tengah), Kota Denpasar (Bali) dan kota Tomohon (Sulawesi Utara). Pemilihan daerah ini dengan mempertimbangkan sebaran tipologi dan karakteristik penting yang melekat di dalamnya.

Leave a reply