
Lagu Pelecehan ‘Erika’ ITB Bukan hanya Candaan, Pucuk Gunung Es Maskulinitas Toksik di Kampus
Institusi pendidikan tinggi kini tengah disorot setelah kasus dugaan pelecehan secara verbal viral di media sosial.
Setelah kasus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menampilkan tangkapan layar yang berisi percakapan sebuah grup bernada seksual, kini unggahan nyanyian video kliper mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung berjudul “Erika”, dinilai mengandung lirik yang bersifat merendahkan dan melecehkan perempuan.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai dua kasus dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia tersebut harus disikapi secara serius.
Menurutnya, kekerasan berbasis gender (KBG) terjadi di lingkungan pendidikan jangan dianggap lumrah.
“Ini bukan sekadar candaan, ini adalah bentuk kekerasan berbasis gender (KBG) secara verbal yang terstruktur,” kata Ubaid, kepada TribunJabar.id, Selasa (15/4/2026).
Fenomena ini, kata dia, bagian dari maskulinitas toksik masih menjadi fondasi solidaritas kelompok di banyak kampus teknik atau prodi yang didominasi laki-laki.
“Sangat ironis, di tempat di mana intelektualisme dipuja, martabat perempuan justru dijadikan bahan olok-olok demi “kebanggaan” korps,” ujarnya.
Dikatakan Ubaid, kasus yang berulang setelah UI, kini mencuat di lingkungan kampus ITB membuktikan bahwa regulasi pencegahan kekerasan seksual di kampus masih sering berhenti di atas kertas.
“Kampus cenderung reaktif, baru sibuk berbenah setelah viral. Pertanyaannya: di mana fungsi edukasi dan pengawasan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS)? Jika lirik seperti itu bisa dinyanyikan secara kolektif dan turun-temurun, artinya ada pembiaran sistemik dari pihak birokrasi kampus terhadap budaya seksisme,” jelasnya.
Ubaid meyakini bahwa kejadian seperti kerap terjadi di lingkungan kampus. Meski tidak mendapat atensi langsung dari khalayak.
“Saya bisa meyakini dengan kuat kasus semacam ini juga terjadi di banyak tempat, tapi ditutup-tutupi. Lirik-lirik lagu tersebut memosisikan perempuan sebagai objek pemuas atau subordinat,” kata dia.
Dia menilai, hal ini menciptakan atmosfer yang mengintimidasi bagi mahasiswi.
“Bagaimana kita bisa bicara soal kepemimpinan perempuan di sektor industri atau teknologi, jika di level mahasiswa saja mereka sudah dikondisikan untuk menerima pelecehan sebagai bagian dari “tradisi” kampus?” katanya.
Dia menuturkan, kejadian yang mencoreng institusi pendidikan ini ibarat puncak gunung es. Bila ditelusuri lebih dalam, banyak kasus serupa yang tidak mencuat.














