
Nilai TKA Matematika Jeblok, Reformasi Kurikulum Mendesak
Guru menilai salah satu alasan matematika pelajaran susah karena faktor kurikulum sementara JPPI menilai pemerintah belum serius memperbaiki pendidikan.
Presiden Prabowo Subianto berambisi besar untuk mencetak generasi muda Indonesia yang cakap dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Awal 2026 lalu, Prabowo menginstruksikan agar alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) diperbanyak untuk bidang STEM.
Di hadapan para rektor dan guru besar perguruan tinggi, Prabowo mengatakan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) di bidang STEM menjadi fondasi bagi swasembada pangan, swasembada energi, serta industrialisasi dan hilirisasi nasional.
“Beasiswa LPDP untuk diperbanyak ke STEM. Tadi beliau sempat menyampaikan berharap mencapai di atas 80 persen karena kita memang konsentrasi untuk mengejar ketertinggalan kita terlebih dahulu di dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, saat menyampaikan isi pertemuan Prabowo dengan para rektor dan guru besar di Istana Kepresidenan, Kamis (15/1/2026) lalu.
Namun, cita-cita besar Prabowo itu terbentur realita di lapangan. Nyatanya, kemampuan matematika dan numerasi siswa SD dan SMP di Indonesia masih jauh dari standar yang diharapkan. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS Sederajat pada 2026 untuk mata pelajaran Matematika tercatat sangat rendah.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat, hasil nasional TKA menunjukkan capaian Bahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan Matematika pada kedua jenjang. Untuk SD/MI sederajat, rerata Bahasa Indonesia mencapai 60,14, sedangkan Matematika 43,41. Sementara itu, pada jenjang SMP/MTS sederajat, rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34.
Di ruang kelas, mengajarkan matematika kepada siswa SD maupun SMP menjadi tantangan tersendiri. Tak mudah bagi Dea Sasti Amelia (24)—seorang guru SMP di salah satu sekolah yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat—untuk membuat murid-muridnya menguasai mata pelajaran matematika dengan cakap.
Dea menuturkan, stigma matematika sebagai mata pelajaran ‘menyeramkan’ sudah tertanam kuat di benak banyak siswa sejak dari rumah. Menurut Dea, tidak sedikit orang tua yang secara tidak sadar menanamkan ketakutan terhadap pelajaran matematika kepada anak-anak mereka.
“Karena setiap anaknya minta ajarin, orang tuanya bilang ‘susah deh matematika’, gitu. Jadi kayak anak tuh udah ketanam nih dari rumah tuh kalau matematika susah,” kata Dea kepada Tirto, Jumat (29/5/2026).
Menurut Dea, persoalan rendahnya kemampuan matematika siswa tidak hanya berkaitan dengan rumus atau hitung-hitungan semata. Ia menilai, kemampuan matematika yang baik justru berasal dari kemampuan berpikir kritis dan analisis seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ia pun mengaku tidak terlalu terkejut dengan rendahnya nilai TKA matematika di sekolah tempatnya mengajar. Sebab, Dea melihat banyak murid belum memiliki kemampuan dasar matematika yang memadai seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian.
Untuk menyiasati kondisi itu, Dea mengaku mencoba menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih santai dan interaktif. Ia kerap membuat kuis dadakan sederhana hingga permainan perkalian di dalam kelas agar siswa lebih tertarik belajar matematika.
“Kalau pas udah nge-game nih, kayak yang bisa-bisa [matematika] nih [jadi] semangat kan. Jadi yang nggak bisa tuh kadang diajarin dulu nih sama mereka,” ujarnya.
Meski begitu, Dea mengakui tantangan mengajar matematika saat ini jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Ia menilai perubahan kurikulum yang terlalu sering justru membuat guru kesulitan beradaptasi di lapangan.
Perempuan lulusan Ilmu Pendidikan Matematika itu menyebut, perubahan nama dan konsep kurikulum selama ini belum benar-benar menyentuh persoalan mendasar pembelajaran matematika di sekolah. Ia juga menilai sistem pendidikan saat ini membuat banyak siswa kehilangan motivasi untuk berkompetisi dan belajar lebih serius.
Selain kurikulum, Dea juga menyoroti persoalan kesejahteraan guru yang menurutnya masih jauh dari memadai. Ia mengaku banyak guru muda merasa masa depannya tidak jelas karena sulitnya akses menjadi aparatur sipil negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Guru tuh ya nggak bohong kalau jadi malas juga ya, karena semakin nggak jelas nih kita mau dibawa ke mana kan [nasibnya],” katanya.
Sejumlah siswa SD Negeri 7 Ciamis bersiap mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer di SMP Negeri 2 Ciamis, Jawa Barat, Senin (20/4/2026). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/kye
JPPI: Transformasi Kurikulum Hanya Kosmetik
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai jebloknya nilai matematika siswa Indonesia menunjukkan bahwa transformasi pendidikan selama ini belum menyentuh akar persoalan mendasar di ruang kelas.
“Kita selama ini terjebak dalam ilusi transformasi kurikulum yang kosmetik, tapi gagal menyentuh substansi mendasar di ruang kelas,” kata Ubaid kepada Tirto, Jumat (29/5/2026).
Menurut Ubaid, pemerintah terlalu sibuk mengganti nama kurikulum dan jargon administratif tanpa benar-benar memperbaiki kemampuan dasar siswa, khususnya numerasi dan logika matematika.
Ia juga menyoroti pemerintah yang dinilai belum serius membenahi kompetensi dan kesejahteraan guru. Menurut Ubaid, kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas tenaga pendidiknya.
“Kurikulum sehebat apa pun tidak akan pernah bisa melampaui kualitas gurunya,” tutur Ubaid.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah memperbaiki sistem sertifikasi guru, mendistribusikan guru berkualitas secara lebih merata, hingga menghadirkan pelatihan yang benar-benar relevan dengan praktik di ruang kelas.
Selain itu, Ubaid menilai anggaran pendidikan seharusnya lebih banyak diarahkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah, termasuk fasilitas belajar dan alat peraga numerasi.
“Kemendikdasmen harus berani memastikan bahwa anggaran pendidikan benar-benar masuk ke ruang kelas: memperbaiki fasilitas belajar, menyediakan alat peraga numerasi yang layak, dan mengintervensi sekolah-sekolah supaya kualitasnya meningkat merata,” tegasnya.
Menurut Ubaid, rendahnya kemampuan matematika siswa berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap daya saing bangsa di masa depan. Sebab, lemahnya numerasi dan logika akan membuat generasi muda kesulitan berpikir kritis maupun membedakan hubungan sebab-akibat dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di program sekolah swasta gratis di SMP Purnama 2 Gayamsari, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (12/6/2025). ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar
Ia menilai persoalan ini bukan semata kesalahan siswa, melainkan kegagalan sistem pendidikan dalam menyediakan pembelajaran dasar yang berkualitas dan merata.
“Kita tidak bisa menuntut generasi muda memiliki daya saing global jika negara gagal menyediakan hak dasar mereka: pendidikan dasar yang berkualitas, merata, dan memerdekakan nalar berpikir mereka. Ini bukan salah generasinya, ini salah sistemnya,” tuturnya.
Kemendikdasmen Klaim TKA Jadi Dasar Perbaikan Pendidikan
Di sisi lain, Kemendikdasmen menilai hasil TKA tahun ini justru menjadi pijakan penting untuk memetakan kualitas pendidikan nasional secara lebih rinci.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan TKA menghasilkan big data pendidikan nasional yang dapat digunakan untuk menyusun kebijakan pendidikan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
“Pemetaan mutu ini menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan berbasis data, mengidentifikasi wilayah yang perlu penguatan, serta memastikan kebijakan dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” ujar Toni dalam keterangan resminya, Rabu (27/5/2026).
Berdasarkan data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), dari total 8.875.362 murid yang terdaftar pada jadwal utama, sebanyak 8.708.891 murid mengikuti TKA sesuai jadwal. Sementara itu, jadwal susulan diikuti oleh 463.533 murid dari total 490.551 peserta yang terdaftar.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati, mengatakan tingginya partisipasi murid dalam TKA menunjukkan meningkatnya kesadaran sekolah, orang tua, dan murid terhadap pentingnya asesmen pendidikan.

Sejumlah siswa baru mengikuti pembukaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 4 Padang, di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Padang, Sumatera Barat, Senin (14/7/2025). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/rwa.
Selain menampilkan nilai numerik, hasil TKA juga dilengkapi kategori capaian dan deskripsi kemampuan murid agar dapat menjadi bahan refleksi pembelajaran bagi guru maupun orang tua.
“Kalau anak berada pada kategori memadai, maka orang tua dan guru bisa melihat kemampuan apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperkuat. Jadi TKA membantu semua pihak memahami strategi pembelajaran yang paling tepat bagi murid,” jelas Rahmawati.
Meski demikian, Kemendikdasmen juga mengakui kemampuan bernalar dan pemecahan masalah matematika siswa masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam sistem pendidikan nasional.
“Ini menjadi perhatian bersama bahwa kemampuan berpikir logis, penalaran matematika, dan problem solving perlu terus diperkuat dalam proses pembelajaran sehari-hari,” tutur Toni.
Hasil TKA nantinya juga akan terintegrasi dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi melalui API dan web service. Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, mengatakan hasil TKA akan menjadi salah satu komponen penilaian jalur prestasi bersama nilai rapor dan capaian prestasi lainnya.
“Pemanfaatan TKA dalam SPMB diharapkan membuat proses seleksi berlangsung lebih objektif, adil, transparan, dan mempertimbangkan kemampuan akademik peserta didik secara lebih komprehensif,” ujar Yudhistira.













