Dugaan Keracunan MBG Berulang di KBB, JPPI Soroti Kegagalan Sistemik dan Tata Kelola
Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bermunculan di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 15 Oktober 2025. Setelah Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cisarua, kasus serupa bermunculan di sekolah-sekolah lain.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mencatat,xdari 2.131 SPPG di Jabar, baru 17 yang sudah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sisanya, sedang berproses mendapat sertifikat. SLHS wajib dimiliki SPPG sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar higiene dan sanitasi. Tak hanya itu, Herman pun mendorong kabupaten/kota untuk membentuk satuan tugas (Satgas) percepatan penyelenggaraan program MBG.
Dari 27 kabupaten/kota di Jabar, saat ini baru 12 daerah saja yang sudah memiliki satgas. “Saya umumkan, Provinsi sudah ya dibentuk Satgas, kemudian yang sudah Pangandaran, Banjar, Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kota Bogor, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kota Bekasi, Kota Cimahi, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Sumedang. Sisanya belum,” ujar Herman, belum lama ini.
Adapun tugas Satgas ini, kata dia, nantinya akan mengawal agar semua SPPG memiliki SLHS. Ia mendorong kepada daerah lain agar segera membentuk tim Satgas untuk memastikan pelaksanaan MBG di Jawa Barat berjalan baik. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyoroti kasus dugaan keracunan berulang di KBB.
Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyatakan, adanya keteledoran dalam peristiwa itu. “Ketika kasus keracunan makanan program Makan Bergizi (MBG) terulang untuk yang ketiga kalinya di Kabupaten Bandung Barat, setelah Cipongkor dan Cihampelas, kini di Cisarua dengan ratusan korban baru, serta terus bertambah, termasuk di SMK 1 Cisarua, maka tidak ada lagi alasan untuk menyebut ini hanya sebagai ‘keteledoran’ atau ‘kelalaian’ belaka,” ucap Ubaid saat dihubungi, kemarin.
JPPI melihat fenomena itu sebagai kegagalan sistemik dan pelanggaran tanggung jawab negara terhadap hak dasar dan keselamatan anak. JPPI juga mengkritik tata kelola program MBG yang sentralistik dan militeristik (dikelola oleh Badan Gizi Nasional/BGN dengan pola top-down dan pengawalan aparat) serta minim transparansi dan akuntabilitas.
“Sistem seperti ini menutup ruang pengawasan publik dan daerah (Dinas Kesehatan/Dinas Pendidikan), sehingga masalah mutu dan keamanan pangan terus terulang,” ucapnya. Selain itu, manajemen pengelolaan MBG di Jawa Barat masih jauh dari ideal. Hal itu terutama pada jaminan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang layak dan juga komitmen hadirnya Satuan Tugas atau Satgas percepatan penyelenggaraan MBG di daerah.
JPPI meminta dilakukan evaluasi total terhadap sistem tata kelola MBG. Pasalnya, masalah terletak pada kesalahan sistem, bukan hanya kesalahan teknis di dapur. Tak cuma itu, JPPI mendesak pemberian sanksi tegas kepada pihak-pihak yang membiarkan praktik berbahaya ini terus berlangsung.
449 orang Berdasarkan data rekapitulasi dari Pelaksana Tugas Kepala Dinkes KBB dr. Lia Nurliana Sukandar pada Rabu 15 Oktober 2025, pukul 14.22, jumlah total korban dugaan keracunan di Cisarua mencapai 449 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 395 orang menjalani rawat jalan/sembuh dan 54 masih dirawat di rumah sakit, klinik dan puskesmas.
Kemarin pagi, sejumlah korban berdatangan ke posko penanganan kasus keracunan di SMPN 1 Cipongkor. Mereka berasal dari beberapa sekolah di wilayah Cisarua, seperti SMKN 1 Cisarua dan SDN Barukai. Hiruk pikuk korban yang datang serta sirine ambulans yang hilir mudik membawa pasien datang dan dirujuk ke fasilitas kesehatan kembali terasa di posko tersebut.
Salah satu korban dugaan keracunan itu adalah Aprilia Pratiwi (16), kelas 11 Jurusan Manajemen Perkantoran, SMKN 1 Cisarua. Aprilia dibawa ke posko pada pukul 07.30. Awalnya, ia menyantap MBG di sekolah pada Selasa 14 Oktober 2025 siang. MBG tersebut tiba ke sekolahnya sekira pukul 11.00 hari itu. Aprilia kemudian menyantap MBG dengan menu nasi, rebusan wortel dan brokoli, ayam kecap, tahu goreng, buah melon tersebut. Ia mengaku mencium bau tak sedap pada rebusan wortel dan brokoli itu. Namun, Aprilia tetap menyantap MBG. Setengah jam selepas makan, ia merasakan gejala berupa mual, pusing dan mual. Ia mulai curiga mengalami gejala keracunan.
“Soalnya, sudah tahu (kasus yang sama terjadi) di SMP,” ucapnya kepada “PR” di posko, Rabu siang. Meski begitu, Aprilia memilih tak berobat atau mengonsumi obat-obatan. Pada Rabu pagi, ia tetap berangkat sekolah. Namun gejala yang dirasakannya semakin parah. Akhirnya, Aprilia dibawa menggunakan ambulans ke posko. Selain Aprilia, empat temannya juga bernasib serupa dan dibawa memakai ambulans ke posko pagi itu. Sendy Kiswanto (16), kelas II Jurusan Rekayasa Perangkat lunak SMKN 1 Cisarua juga mengalami gejala keracunan setelah menyantap MBG pada Selasa siang, pukul 11.30.
Setelah mengonsumsi makanan itu, Sendy mengaku tak merasakan gejala apapun. Ia juga tak mencium bau pada menu MBG yang disantap. Keesokan harinya, sekira pukul 10.00, Sendy baru merasakan gejala berupa perut mual, agak pusing dan sakit di bagian mata hingga kemudian dibawa ke posko. Rupanya, dugaan keracunan juga dialami sejumlah siswa dari SDN Barukai. Sebagaiman para murid SMKN 1 Cisarua, mereka juga baru merasakan gejala keracunan sehari setelah mengonsumsi MBG. Rahma Sakinah (9) misalnya.
Murid kelas III SDN Barukai baru merasakan gejala pada Rabu pagi. “Baru pulang sekolah (hari ini, Rahma mengeluhkan pusing sakit kepala,” ucap Siti Aisyah (30), ibunda Rahma. Askan (10), siswa kelas IV SDN Barukai setali tiga uang. Selepas mengonsumsi MBG pada Selasa 14 Oktober 2025, ia belum merasakan gejala. Susi Purwanti (33), ibu Askan mengaku mengantisipasi anaknya keracunan dengan membelikan kelapa. Air kelapa lalu diminumkan ke anaknya. Tetapi, gejala dirasakannya pada Rabu 15 Oktober 2025 berupa sakit perut dan badan dingin. Kasus dugaan keracunan MBG Cisarua mulanya terjadi pada Selasa 14 Oktober 2025 di SMPN 1 Cisarua.
Padalarang
Di Padalarang, sebanyak lima siswa mengalami gejala mual dan pusing setelah menyantap MBG pada Rabu 15 Oktober 2025. Camat Padalarang Agus Achmad Setiawan mengonfirmasi kejadian itu. Kelimanya berasal dari dua sekolah. Namun, Agus menyatakan belum bisa memastikan mereka mengalami gejala keracunan akibat menyantap MBG.
“Ini harus ada cek lab (untuk memastikan),” katanya saat dihubungi.
Dari hasil asesmen, kata Agus, gejala tersebut tidak menutup kemungkinan muncul karena ada siswa yang tidak makan saat berangkat ke sekolah dan langsung mengikuti kegiatan olah raga. Selain itu, ada pula yang mengonsumsi makan pedas serta memiliki penyakit bawaan seperti maag. Dinas Kesehatan KBB juga sudah mengambil sampel MBG yang dikonsumsi siswa tersebut untuk diteliti. “Alhamdulillah kelimanya tos (sudah) pulang (dari perawatan), mudah-mudahan tidak berkelanjutan,” ucap Agus saat dihubungi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban baru, Pemerintah Kecamatan Padalarang pun membuka posko di aula kantor kecamatan. (Bambang Arifianto, Deni Supriatna)***














